Home   |     News   |     Contact Us
News    |    Video    |    Blog    |    Rumah Sakit    |    Klinik    |    Apotek    |    BBLauncher    |    BBRadioStreamer   
Bersama kiatsehat.com Wujudkan Indonesia Sehat Tahun 2010
Artikel Terbaru 
- Mulut dan Gigi

- Kecantikan

- Kelahiran

- Kehamilan

- Berat Badan

- Makanan & Nutrisi

- Mata


  Topik Lainnya
 Semua Para Pakar 
 Semua News & Events 
 Semua Kiat Artis 
 Semua Sehat Bareng Bintang 
 Semua Kolom Pembaca 
 Home Artikel 
6 Maret 2010

 

6 Maret 2010

Kenali Penanganan Diabetes Melitus

 

Kiat Sehat – Surabaya : Kelebihan gula darah dalam tubuh, penyakit ini masih saja menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. Pasalnya semakin kedepan, semakin banyak komplikasi yang ditemukan dari penyakit tersebut. Untuk itulah orang mulai sadar untuk hidup sehat dan terhindar dari penyakit diabetes mellitus (DM) ataupun penyakit yang lainnya.

 

Namun tentunya, tidak ada salahnya kalau setiap orang tahu dengan jelas, apa dan bagaimana sebenarnya DM ini. Menurut drg. Soekamto MS, Sp.Perio, Diabetes Mellitus atau DM adalah sindrom kronis, hiperglikemia kronis, gangguan metabolisme, gangguan karbohidrat, lemak protein hiperpoliurea, polidipsia, penurunan berat badan sehingga kadar glukosa dalam darah meningkat.

 

Sampai saat ini, terjadinya DM ini tidak bisa dipastikan penyebabnya, multifaktoral diantaranya genetic imunologi, hormonal, metabolic dan lingkungan. “Yang jelas, kejadian ini merupakan kondisi ketidakmampuan sel beta pulau langerhans pada kelenjar pankreas memproduksi hormon insulin,” jelas dr. Soekamto. Padahal hormon insuline ini bertanggung jawab pada penggunaan lever (hepar), muscle (otot) dan jaringan lemak.

 

Gangguan toleransi glukosa ini sangat bisa terjadi pada orang yang tidak gemuk sekalipun, hanya saja, faktor resiko akan lebih besar bagi mereka yang kelebihan berat badan. Komplikasi yang bisa terjadi sebagai akibat dari kadar gula yang tidak terkendali ada banyak. Diantaranya terjadi penyempitan pembuluh darah dan kelemahan syaraf. “Dua faktor tadi bisa menyebabkan serangan jantung, stroke, gagal ginjal, kebutaan, luka yang sulit sembuh, hipertensi, TBC bahkan gusi mudah goyang,” ujarnya.

 

Terapi DM bisa dilakukan dengan konsumsi obat-obatan untuk DM. prosesnya bertahap, dari dosis awal yang rendah kemudian naik secara perlahan. Pemakaian obat ini dalam jangka panjang biasanya tiadk berbahaya. “Asalkan dikonsumsi sesuai anjuran dokter, jangan menambah atau mengurangi jenis obat DM tanpa sepengathuan dokter, maka konsumsi obat ini tidak akan berbahaya,” terang dr. Soekamto. Jenis obat yang dikonsumsi juga harus dikontrol dan perlu pengawasan serta ketekunan dalam pemakaiannya.

 

Selain mengkonsumsi obat-obatan, penderita DM juga dianjurkan untuk mengatur konsumsi makanannya. “Orang yang menderita DM harus membatasi konsumsi sirup, madu dan juga makanan seperti permen. Boleh mengkonsumsi buah manis seperti mangga misalnya,” ujar dr. Soekamto. Orang dengan Dm juga harus membatasi konsumsi protein, hanya boleh mengkonsumsi protein sebanyak 10%-15% saja dari menu yang ada.

 

Antibiotic sebenarnya tidak selalu diberikan pada penderita DM. perawatan emergency termasuk periodontal abses, periapical abses dan kronis ondotogen juga perlu dilakukan oleh penderita DM. Namun kunci keberhasilan pada penyakit DM adalah mengurangi stress, diet makanan, motivasi dari pasien sendiri, terapi antibiotic dan juga rajin control secara teratur setiap 3 bulan sekali.Nana

 

 

Kirim artikel ke teman anda, tanda (*) harus diisi.
Nama (*)
Email Anda (*)
Email Teman (*)
Security Image
copyright © 2007 www.kiatsehat.com

Informasi pada web site ini ditujukan hanya untuk kebutuhan informasi saja dan tidak untuk menggantikan saran pakar kesehatan. Sebaiknya anda tidak menggunakan informasi pada web site ini untuk mendiagnosa atau melakukan tindakan medis tanpa petunjuk Dokter anda. Bacalah semua paket produk secara baik dan hati-hati. Informasi kesehatan ini kami usahakan untuk dapat dilakukan update sesegera mungkin, beberapa info mungkin kurang baru, Jika anda mempunyai keluhan kesehatan, segera hubungi penyedia pelayanan kesehatan professional anda.