|
11 Maret 2010
11 Maret 2010
Cegah Pikun dengan Tetap Produktif
Kiat
Sehat – Surabaya : Menjadi tua dengan tetap bisa mengingat banyak hal
pastilah menyenangkan. Namun biasanya semakin bertambahnya umur semakin
menurunlah daya ingat seseorang, bahkan tidak sedikit yang akhirnya mengalami
kepikunan. Semua masalah tersebut berpusat pada satu organ tubuh manusia yang
disebut otak.
Otak memiliki peran sebagai
pusat dan pengatur gerak, sensasi dan fungsi kognitif. Hal ini memungkinkan
makhluk hidup merasakan rasa nyeri, panas, dingin, bahagia dan juga sedih.
Fungsi kognitif sendiri adalah suatu proses rangsangan yang masuk ke otak
kemudian diolah dan disimpan sehingga mampu melakukan penalaran atau respons
yang sesuai rangsangan.
“Fungsi kognitif yang dimaksud
adalah meliputi daya ingat, bahasa, atensi dan konsentrasi juga kemampuan
hitungan,” terang dr. Yudha Haryono, SpS dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Dari
sekian komponen tersebut, menurut dr. Yudha, daya ingat atau memori adalah yang
paling rentan terganggu. Daya ingat merupakan proses dimana informasi yang masuk
dan diterima otak diproses untuk dipakai lalu diabaikan (Short term memory),
dipakai lalu disimpan dan menjadi memori jangka panjang (Long term memory) atau
dipanggil lagi dan kemudian dipakai.
“Yang sering terjadi disini
adalah lupa, ini merupakan kegagalan memanggil kembali informasi yang pernah ada
atau diterima. Tidak usah menunggu usia lansia, siapa saja sangat berpotensi
untuk lupa akan sesuatu,” tambahnya. Awal dari kepikunan sebenarnya adalah
gangguan daya ingat seperti mudah lupa. Mudah lupa memang bisa terjadi pada
siapa saja tidak pandang usia, namun tentunya lansia akan lebih rentan terhadap
yang satu ini. Mudah lupa ini bisa jadi normal namun bisa juga tidak. Ini
merupakan tanda awal dari demensia atau kepikunan pada lansia.
Orang yang sudah memasuki usia
diatas 50 tahun, akan sangat potensial sekali mengalami mudah lupa ini. Meskipun
begitu, orang yang mudah lupa belum tentu mengalami demensia atau kepikunan.
“Demensia merupakan gangguan kognitif pada memori atau daya ingat yang disertai
gangguan lain seperti gangguan bahasa sehingga mengganggu fungsi social
seseorang,” ujar dr. Yudha. Demensia juga bukan suatu penyakit yang terjadi
secara mendadak tetapi merupakan suatu proses kontinyu dari gangguan fungsi daya
ingat.
Jumlah lansia di Indonesia saat
ini kurang lebih 16 juta orang dan akan terus meningkat sehingga diprediksi akan
mencapai 25,5 juta orang di tahun 2020. Jumlah ini merupakan peringkat ke 4 di
dunia, dan mereka ini sangat berpotensi tinggi terserang demensia. “Selama ini
masyarakat memiliki pandangan yang keliru bahwa orang tua yang pikun itu adalah
sesuatu yang wajar. Sebenarnya tidak benar seperti itu, demensia terjadi bukan
hanya dipengaruhi oleh factor usia, jadi tetap perlu diwaspadai,” terang dr.
Yudha.
Demensia sendiri ada beberapa
macam, demensia vaskuler yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak,
misalnya karena pernah terkena stroke. Demensia jenis ini terutama terjadi pada
mereka yang mengalami stroke berulang. Sering disertai gangguan gerak seperti
kelemahan, kelumpuhan dan juga gangguan bahasa. Yang berikutnya adalah demensia
Alzheimer, ini merupakan salah satu bentuk demensia akibat degenerasi otak. “Ini
merupakan kondisi dimana sel otak terutama lapisan kelabu atau korteks ini
mengalami kematian. Ini diawali dengan gangguan memori jangka pendek, sulit
belajar hal baru, berangsur memberat sampai hilangnya memori jangka panjang,”
terang dr. Yudha.
Demensia Alzheimer ini paling
sering ditemukan dan paling ditakuti oleh semua orang. Hal tersebut berkaitan
dengan dampak yang terjadi pada orang yang terkena Alzheimer. Dari lupa menaruh
barang, disorientasi waktu dan tempat sampai pada perubahan ciri kepribadian
seseorang. “Orang yang terkena Alzheimer bisa tampak normal, namun kemudian
berubah seperti tiba-tiba menjadi pemarah, curiga, agitasi dan mudah tersinggung,”
lanjutnya.
Demensia bisa ditangani dengan
farmakologis atau obat-obatan ataupun non farmakologis. Intinya adalah dengan
pemeriksaan kesehatan secara teratur, mengatur pola atau menu makan, gerak atau
olehraga secara teratur dan melakukan senam otak sehat. “Mempergunakan otak
secara terus menerus juga baik untuk mencagah kepikunan. Kegiatan seperti
mengisi teka-teki silang, membaca, belajar, bermain puzzle, dan melakukan
berbagai aktivitas merupakan stimulant yang baik untuk mencegah turunnya fungsi
otak,” tandas dr. Yudha.
Bila sudah mengalami gejala
dini sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Semakin cepat diagnosa maka akan
semakin baik hasil pengobatannya. Kelemahan masyarakat adalah takut mengetahui
kondisi yang sebenarnya dan menunda mencari pertolongan dokter. Hal semacam ini
akan semakin memperparah kondisi yang sudah ada.
Demensia juga dapat dicegah
dengan melakukan beberapa hal ringan seperti mengecek apa-apa saja yang perlu
diingat, membuat catatan khusus sebagai ceklis dan juga biasakan untuk
merencanakan urut-urutan apa yang akan dikerjakan. Segera sadari ketika
perhatian anda mulai teralih, usahakan agar anda tetap sehat dan jadilah orang
yang selalu siap membantu orang lain. Peliharalah dan pergunakanlah otak sebaik
mungkin sehingga terhindar dari kepikunan.Nana
Kirim artikel ke teman anda, tanda (*) harus diisi. |