|
4 Maret 2010
5
Maret 2010
Waspadai
Gangguan Perkembangan Otak Anak
Kiat
Sehat – Surabaya : Perkembangan intelegensia anak, berkaitan dengan
perkembangan fungsi otak. Pada usia tertentu, perkembangan fungsi otak
memerlukan stimulasi untuk bisa mencapai potensi kecerdasan yang optimal.
Stimulasi sebaiknya mulai dilakukan melalui pendidikan sejak usia dini sampai
usia lanjut melalui pendidikan formal dan nonformal.
“Otak bukanlah elemen tubuh yang
statis, yang sudah jadi, sehingga tidak bisa diubah ,” terang dr. Adre Mayza
Sp.S(K) dari Pusat Intelegensia Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
mengutip ungkapan dari Dalai Lama. Pada dasarnya dia mengatakan bahwa potensi
otak untuk berubah sangatlah tidak terbatas, bahkan boleh dikatakan tidak
terukur. Masalahanya sering terjadi gangguan perkembangan dari masing-masing
fungsi , jika terjadi seperti ini, diperlukan penilaian khusus sesuai dengan
permasalahannya.
Pada awalnya, pendidikan mengacu
pada teori-teori konvensional, namun setelah dilakukan banyak riset tentang otak
terjadilah perubahan total dalam konsep-konsep pendidikan. “Setelah ditemukannya
dominasi otak kanan dan kiri oleh dr. Sperry, konsep belajar konvensional yang
mengutamakan kemampuan belahan otak kiri, berubah menjadi pengenalan belahan
konsep kanan dan kiri yang seimbang,” tegas dr. Adre. Hal ini tentu saja penting
diketahui oleh para pendidik.
“Ternyata sel otak dapat terus
tumbuh sampai usia berapapun. Dengan model pembelajaran yang tepat merangsang
bagian otak tertentu akan menyebabkan neuron tunggal dapat membuat 200.000
hubungan pada satu waktu,” ungkap dr. Adre. Otak memiliki 100 milyar sel,
kecepatan berkembang neuron tersebut 50.000-100.000/detik selama pertumbuhan
janin. Sel neuron dan sel-sel glia mengatur diri menjadi cluster. Cluster yang
rapat disebut modul dan cluster yang menjalin hubungan komunikasi dengan
cluster-cluster lain disebut sirkuit.
“Dasar dari pembentukan
intelegensi adalah sirkuit-sirkuit yang membentuk hubungan spesifik untuk
memproses informasi yang masuk ke otak membentuk system,” terangnya.
Masing-masing system ini berhubungan dengan system lainnya membentuk daerah
spesifik di cortex yang membentuk 5 sistem pembelajaran di otak. Gangguan
perkembangan otak sangat mungkin terjadi disini. Seperti misalnya gangguan
intelegensi senso-motor, gangguan intelegensi praksis dan gangguan intelegensia
representative. Gangguan-gangguan tersebut bisa mengakibatkan berbagai jenis
penyakit seperti down syndrome, ADD, ADHD, Celebral palsy dan juga autisme.
Autisme sendiri merupakan suatu
kumpulan gejala-gejala neurologist akibat gangguan fungsional otak. Ini
merupakan gangguan perkembangan intelegensi representative yang bisa berupa
gangguan asosiasi, informasi secara kompleks. Selain itu gangguan atensi atau
perhatian, biasanya anak yang autis akan terfokus pada satu informasi yang masuk
melalui penglihatan yang terdiri dari visual attention, visual recognition dan
visual for action.
“Anak dengan autisme juga akan
mengalami gangguan bicara, gangguan emosi, gangguan perkembangan intelegensi
bahkan gangguan gerakan koordinasi bola mata di lobus frontal ke batang otak,”
jelas dr. Adre. Gangguan lobus frontal ini berupa lobus frontal yang tidak
berkembang, ini membuat anak sulit membuat keputusan dan memutuskan sesuatu. Hal
ini membuat anak yang autis menjadi terlihat lain dan terkesan aneh dibanding
anak-anak normal lainnya.
Autisme bisa ditangani dengan
melakukan multidisipliner, early deteksi dan early intervensi. Jika masih dalam
tahap ringan-sedang bisa ditangani oleh orangtua, terapis, dokter, psikolog
bahkan guru di sekolah temapt dia belajar. Namun jika sudah memasuki tahap berat,
sebaiknya dilakukan kognitif stimulasi atau Neuro Senso Motor Reflex Integration
(NSMRI). Cara ini sangat efektif untuk mendorong perkembangan motorik dan
personal yang mempengaruhi pembentukan pola belajar gerak yang bermakna dan
fungsional serta perkembangan pribadi individu.Nana
Kirim artikel ke teman anda, tanda (*) harus diisi. |