|
drg
drg.
YELIANTO KUSUMA, Sp. Ort
RS.
ADI HUSADA Undaan - Surabaya
Orang
Tanpa Kelainan Tidak Perlu Mamakai Kawat Gigi
Perkembangan
media televisi semakin pesat membuat orang banyak meniru apa yang ditontonnya
dan segala sesuatu yang dilakukan artis menjadi populer, menjadi gaya
hidup atau lifestyle. Mungkin hal itu juga yang membuat pemakai kawat gigi
semakin banyak. Padahal kawat gigi dulu benar-benar dipakai untuk memperbaiki
struktur gigi. Orang tanpa kelainan tidak perlu mamakai kawat gigi (orthodontic)
karena jika kita tidak bisa menjaga kebersihan dengan memakai alat
tersebut maka kemungkinan besar sisa-sisa makanan akan menempel di alat.
Sebelum
memasang kawat gigi (Orthodontic) pada pasien dilakukan foto rontgen, panoramik
untuk melihat kelainan di gigi maupun jaringan di sekitar gigi baik di rahang
atas maupun di rahang bawah. Foto cevalometri untuk melihat profil penderita
baik jaringan keras maupun jaringan lunak misalnya hidung dan bibir dari samping.
Setelah itu kita lihat gigi-gigi yang ada secara klinis apakah ada lubang,
charies, apakah ada kelainan-kelainan jaringan gusi dan jaringan lunak di
sekitar rongga mulut. Pemakaian kawat gigi sebenarnya hanya untuk orang-orang
dengan kondisi tertentu yakni :
-
Semua
orang yang menderita kelainan atau yang memiliki kelainan susunan gigi.
-
Kelainan-kelainan
bawaan lahir misalnya pada penderita celah bibir dan celah langit-langit
yang dikenal dengan istilah klevalat atau klevlit.
-
Pada
orang yang kehilangan 1 atau 2 giginya di bagian depan yang kemudian
biasanya dokter gigi akan bekerjasama dengan dokter gigi specialis yang
lain.
Pada penderita anak-anak yang punya kebiasaan jelek juga bisa memakai kawat
gigi dengan dibuatkan alat-alat atau piranti lepasan. Terapi cekatnya akan
menimbulkan sisa-sisa makanan jika tak dibersihkan dengan bagus dan baik oleh
pemakai maka akan menimbulkan syndrom charies gigi, kemudian penyakit gusi
sehingga menimbulkan problem lebih banyak maka jika memang tidak perlu lebih
baik tidak usah.
Perawatan di rumah tipsnya adalah :
-
Terutama
menyikat gigi sesudah makan, jadi pemakai kawat gigi usahakan membawa cermin
kecil dengan tusuk gigi sehingga dimanapun ia berada ia bisa langsung
membersihkan sisa makanan yang masuk disela-sela gigi. Setelah itu baru ia
menyikat gigi jadi harus senantiasa membawa sikat gigi dan pasta gigi.
-
Kalau
masih merasa kurang bersih bisa memakai obat-obat kumur.
-
Secara
rutin kontrol ke dokter gigi orthodontis-nya untuk mengantisipasi timbulnya
karang gigi atau warna-warna gigi yang hitam.
-
Hindari
makanan-makanan yang banyak mengandung gula misalnya permen, kue-kue manis
dan yang mengandung cokelat, terutama hindari permen karet.
Perawatan dengan menggunakan kawat gigi untuk kasus yang tidak susah
biasanya dibutuhkan waktu kurang lebih satu setengah hingga dua tahun
sampai benar-benar bisa dilepas. Kemudian ia harus memakai alat namanya retainer
atau alat oethodontis yang lepasan. Yang bisa dibuka-buka dan dipakai
sepanjang hari selama 24 jam untuk 6 bulan pertama, setelah itu 6 bulan kemudian
dipakai hanya pada malam hari saja.
Perawatan dengan kawat gigi tidak dianjurkan untuk penderita –penderita
yang mempunyai penyakit-penyakit misalnya epilepsi atau ayan, Diabetes Melitus,
kelainan-kelainan yang berhubungan dengan darah atau kelainan sistemik tertentu
juga pada wanita yang sedang hamil karena hormon estrogennya meningkat sehingga
ada ganguan pada rongga mulutnya. Meskipun keadaannya memungkinkan mereka tidak
bisa mendapatkan perawatan dengan kawat gigi karena kontraindikasi seperti
giginya akan mudah goyang. Alternatif lain yakni menggunakan
gigi tiruan atau sekarang sedang trend seperti cosmetic dentis atau estetiq
dentis yakni menambal dengan bahan tambahan tertentu atau membuatkan gigi
tiruan dengan mengecilkan gigi kemudian dibungkus dan sudut giginya agak
dimasukkan. Dengan cara ini resikonya lebih kecil !
Antariksa
Radio Info Kiat Sehat Surabaya
Mendukung
Terwujudnya Indonesia Sehat
Kirim artikel ke teman anda, tanda (*) harus diisi. |