|
Kalimat Penghancur Harga Diri Anak
Kalimat
Penghancur Harga Diri Anak
Perubahan zaman dan
bergesernya pola hidup saat ini membuat banyak pengaruh terhadap hubungan antara
orang tua dan anaknya. Bukan hanya itu perubahan-perubahan tersebut membawa
pengaruh terhadap pola pikir dan pola ajar orang tua. Kini jamannya telah
berbeda, pengertian antara orang tua dan anak sangat dibutuhkan. Di satu sisi
anak tetap sebagai seorang anak yang patuh dan menghormati orang tuanya, di sisi
lain orang tua juga harus menghargai dan menghormati pendapat serta apa yang
telah dilakukan anak. Kadang orang tua tak menyadari bahwa apa yang dilakukan
dan dikatakannya belum tentu sesuai dengan keinginan anaknya. Yang banyak
terjadi adalah kata-kata atau ucapan yang justru memberi dampak psikologis,
seperti :
“ kenapa kamu nakal
sekaliiiii...”. Kalimat “kenapa” adalah sebuah pernyataan retoris yang sulit
dijawab. Akibatnya, anak merasa pantas untuk nakal,
cap kenakalan yang diberikan orang tua dijadikan alasan pembenar, akhirnya
setiap kali ada masalah anak memilih ribut dengan orang tua.
Yang harus anda lakukan
sebagai orang tua adalah mencoba mencari alasan mengapa anak anda begitu, saat
ia kesulitan, tenangkan dan tawarkan bantuan “sepertinya kamu punya persoalan
?”. Renungkan sepanjang perjalanan hidup anda salah, tentunya tak adil jika anak
anda tak boleh melakukan kesalahan. Tunjukan dimana salahnya dan ajari mengatasi
persoalannya.
“yang kamu lakukan tak
ada gunanya...!”. Anggapan sepele orang tua akan berdampak buruk pada anak.
Anak akan merasa apapun yang ia lakukan tak ada gunanya. Ini berarti anda
sebagai orang tua telah mematahkan semangat anak dan mematikan keinginan untuk
mencoba. Jagalah perasaanya saat anda memberi komentar. Anak-anak belajar
memahami emosi dan ber-persepsi dari kalimat-kalimat yang didengarnya. Makin
banyak ia mendengar kalimat sayang, cinta dan penghargaan, maka ia akan semakin
percaya diri.
“ kok kamu nggak bisa
seperti si A atau si B....”. Kalimat seperti ini akan membuat anak kehilangan
harapan, karena tak mungkin menjadi orang lain. Anak
menjadi antipati dan tak bersemangat. Apalagi yang menjadi pembandingnya adalah
saudaranya sendiri, ia akan membenci saudaranya. Tanpa dicaci pun anak akan
merasa bahwa ia tak berhasil, maka anda sebagai orang tua tak perlu menambahnya
dengan membanding-bandingkan. Keberhasilan anak tidak harus selalu dengan
bekerja ekstra keras dan punya pembanding.
“ pokoknya kamu harus
melakukan itu untuk mama atau papa....!”. Kalimat ini mengesankan anda sebagai
orang tua mengharap pamrih dari anak. Hal ini akan
menimbulkan perasaan gelisah, takut, marah dan dendam. Sekali merasakan ancaman
anak akan sulit menikmati perasaan bahagianya. Yang harus anda lakukan adalah
pahami ahasa tubuh anak, biarkan anak belajar memilih sehingga ia tahu apa yang
harus dilakukan dan harus bagaimana.
Harry
Santoso
Dalam
Program " Perilaku Hidup Sehat "
Setiap
hari Selasa jam 10.00 - 11.00 wib
AM 1278
Radio Antariksa - Surabaya
Kirim artikel ke teman anda, tanda (*) harus diisi. |